Bangkitkan Literasi Menuju Pemuda Bestari Dalam Refleksi Sumpah Pemuda Masa Kini
Tepat 94 tahun lalu sekumpulan anak muda dari lintas
suku, bangsa dan bahasa yang berbeda merumuskan konsensus yang berisikan
kesadaran berbangsa dan bernegara. Momentum perkumpulan kaum muda ini
melahirkan tiga ikrar yang terus dipegang teguh hingga kini yaitu satu tanah
air, satu bangsa, satu bahasa Indonesia yang dikenal dengan sumpah pemuda.
Perayaan sumpah pemuda lebih sering didiskusikan tentang persatuan dan kesatuan. Padahal, jika kita melihat problematika Indonesia saat ini berkaitan erat dengan krisis literasi. 94 tahun sumpah pemuda telah dideklarasikan tentunya hal ini mejadi momentum kebangkitan literasi bagi kaum muda Indonesia untuk terus ditingkatkan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, budaya literasi kaum muda harus menjadi point utama yang harus dikembangkan. Faktanya UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Sindrom lemahnya baca tulis yang sedang dialami oleh pemuda hari ini mengakibatkan ketumpulan daya nalar pemuda Indonesia dalam hal sosial, poiltik hingga kebangsaan. Keadaan ini menjadi tugas besar bagi pemuda hari ini. Pentingnya kesadaran literasi baca tulis dan literasi factual bukan tanpa alasan, melainkan didasari pada usia perkembangan kognitif yang sudah memasuki tahap formal operasional dengan ditandai proses berfikir yang semakin logis. Artinya, kaum muda dapat membayangkan dan menganalisis sesuatu secara abstrak tanpa kejadian yang konkret. (Jean Piaget: 2011)
Perayaan sumpah pemuda kali ini semoga bukan hanya sekedar euforia di hari kemarin saja, tetapi bisa menumbuhkan gerakan literasi membumi bagi Indonesia. Mari kita budayakan Gerakan Literasi Nasional (GLN) untuk indonesia cerdas, inovatif, dan kreatif. Ingat! tugas ini tidak hanya dibebankan oleh pegiat literasi saja namun berlaku juga pada seluruh tingkatan masyarakat baik dunia usaha, mahasiswa, anak-anak, dan orang tua.
# Salam muda, millenial, terpelajar
oleh: Alaina S
alma

Komentar
Posting Komentar