Untukmu Wahai Matematikaku
Mari kita awali
hari ini dengan pelajaran matematika yang banyak orang bilang membuat sakit
kepala.
Sub Bab Pertama,
Nilai Mutlak, bahwa cintaku padamu tidak akan pernah bisa minus. Nilai mutlak adalah langkah, maka Aku akan terus maju mengejarmu tanpa mengenal kata mundur. Dalam sejarah cinta tidak ada yang namanya Notasi ilmiah, sebanyak apapun cintaku tak akan pernah dipangkas meski dengan Notasi ilmiah. 1°=1 2°=1 100°=1 Cintaku = 1 yaitu kamu.
Dulu, aku
pernah menjumlahkan pecahan tanpa menyamakan penyebut, kata guruku, “Itu salah
besar jika terus kau lakukan”. Karena aku akan mendapat hasil yang
benar ketika perasaanmu mulai sama denganku. Kala itu, kamu pernah bertanya,
”Mengapa
untuk mengalikan pecahan tak perlu menyamakan penyebut?”. Karena cintaku terus
tumbuh berkali-kali lipat tanpa harus meminta izin padamu.
Kau tahu, Aku
pernah mengerjakan soal bernama kamu, namun sampai sekarang tak pernah
kutemukan jawabannya meski menggunakan ribuan rumus. Kugunakan pemfaktoran? Yang benar saja. Itu tidak akan
pernah berhasil karena selamanya cintaku tak akan pernah bisa dibagi ataupun
diperkecil. Kugunakan limit, dan ternyata kata tak terhingga masih kurang
banyak untuk mendefinisikan dirimu dan cintaku. HAH!! Rumus apa lagi?!
Baiklah,
mari kita bahas tentang statistika matematika Mean dari data kehidupanmu adalah
kamu. Hasil Modusnya adalah aku mencintaimu. Namun, aku tidak mau membahas
Median. Karena selamanya cintaku padamu tetaplah 1 dan tidak akan bisa dirubah
menjad 1/2 . jika kamu bertanya, seberapa besar cintaku padamu maka jawabannya
adalah 1/0.
Mengapa
setiap lingkaran yang aku cari luasnya hanya akan berputar-putar pada poros
yang bernama kamu? Dalam pikiranku hanya ada kamu, apa kamu yang mengubah semua
rumus yang kuhafalkan? Atau kamu menyelipkan dirimu disetiap rumus yang ada
dikepalaku? Haih entahlah.
Inti
dari semua ini adalah kamu wahai matematikaku. Dan rumus untuk menyelesaikan
soal tentang kamu adalah, aku mencintaimu, mencintaimu dan terus mencintaimu.

Komentar
Posting Komentar