Setitik Angan
Sekarang, Aku ingin sedikit
bercerita tentang “Kita”. Jangan titik beratkan cerita ini pada kamu, atau dia.
Melainkan kita dengan kata lain adalah Aku.
Ini kisah tentang Aku, sang burung puyuh yang payah. Hidupku didaratkan,
tak bisa mengepak-ngepakan sayap apalagi terbang jauh.
Pada suatu hari, Aku
sedang mencari makan disebuah hutan belantara, kudongakkan kepala memandang seekor
burung yang dengan gagahnya terbang kesana kemari sembari meneriakkan suara
tanda kekuasaan. Langit adalah miliknya, siapa yang berani mengepakkan sayapnya
disini maka ia akan berakhir tragis.
“Ya Tuhan, rajawali itu
keren sekali”. Gumamku dalam hati. Jangankan terbang, mengepakkan sayap pun aku
kesusahan. Sarangku saja dibawah karena tak baisanya aku untuk melejit. Tuhan,
aku ingin seperti rajawali itu, bisa terbang dan dihormati banyak orang, bisa
diandalkan dan tidak pernah mengecewakan, nampak gagah dan tak bisa dikalahkan.
Apalah Aku, yang senantiasa bersimpuh dilumpur, tanpa bisa merasakan semilir
angin. Apalah Aku, yang terlahir payah dan tak bisa melakukan apa-apa. Sekali
lagi apalah Aku, bisa-bisa Aku mati terkena sambaran Rajawali itu karena saking
lemahnya.
Dan kau tau, Aku lelah
ditindas, Aku lelah dicaci, diremehkan, diinjak-injak. Aku ingin jadi seperti rajawali
Tuhan. Kalian pikir Aku akan diam begitu saja? Bahkan setiap hari Aku selalu
berlatih dan berusaha. Pertama, dengan terus mengepakkan sayap. Kedua terus
berlatih menjadi pemberani dan Ketiga Aku senantiasa berdoa pada Tuhan untuk
mengabulkan keinginanku.
Aku tahu ini konyol, tapi
takdir tidak ada yang tau bukan? Bagaimana jika tiba-tiba Aku terbangun dengan
keadaan semua fisikku berubah menjadi rajawali? Tak ada yang tahu kan?
Tiba-tiba saat aku
berjalan-jalan untuk mencari air minum, Aku bertemu dengan seekor harimau singa
yang sudah terkulai lemah terkena panah pemburu. Aku iba padanya, namun apalah
daya sang puyuh yang payah ini. Paruhku tak cukup kuat untuk mencabut panah
itu. Bukankah jika Aku mencabutnya, sama saja dengan bunuh diri? Aku pun
berbalik badan mengacuhkannya. Lagi pula siapa yang mau jadi bulan-bulanan
singa mengerikan itu.
“Hei burung puyuh...”
Panggil singa itu. Sontak Aku pun menghentikan
langkah tanpa membalikkan badan. Mungkin jika kalian melihat wajahku saat ini,
ku yakin kalian semua pasti akan tertawa. “Apa kau pernah berfikir betapa
hebatnya Aku? Pernahkah kau pernah berfikir hidupku sangatlah mengasyikkan
karena bisa merajai seluruh hutan? Para hewan berlarian hanya karena mendengar
aumanku.
Bahkan mereka sudah bersembunyi saat tahu Aku
mulai berjalan menuruni gunung. Apa kau pernah berpikir ingin menjadi seperti
diriku? Ku yakin, semua pasti mendambakannya. Tapi ketahui lah wahai burung
puyuh, banyak yang memusuhiku, Aku kesepian, tak punya teman berkeluh kesah.
Mereka selalu berburuk sangka padaku.
Aku
diam, tiba-tiba mereka lari terbirit-birit. Aku ingin jadi seperti dirimu, yang
tak tahu menahu akan perebutan kekuasaan. Tugasmu hanya bersembunyi. Kau bisa
leluasa menyapa para hewan yang ada diseluruh hutan. Bisa makan tanpa harus
memusuhi banyak orang. Kau tahu mengapa Aku selalu menerkam para hewan? Ketika
Aku tak menerkam maka Aku lah yang akan diterkam. Menyedihkan bukan? Itulah
yang selalu dialami para pemimpin wahai burung puyuh. Entah diudara, daratan,
ataupun air, semua sama saja. Sama-sama banyak musuh, sama-sama kesepian juga
sama-sama berakhir tragis. Baiklah, jangan pernah sesali jadi apa dirimu
sekarang, yang benar berbaiki agar dimasa depan tak ada kata tidak sesuai
harapan. Nikmati saja hidupmu, Aku yakin, jika kau nikmati pasti akan terasa
indah.”
Sialan! Aku kesal dengan
perkataan singa brengsek itu, tapi benar juga yang ia katakan! Aku langsung
pergi karena merasa kalah telak. Salahkah aku jika ingin menjadi rajawali? Apa
karena aku terlahir lemah selamanya akan jadi orang lemah? Baiklah, kuputuskan
menjadi puyuh yang ramah, memang Aku tak bisa seperti rajawali tapi setidaknya
Aku akan bahagia ketika hidup bersama teman-teman. Tawaku setidaknya membuatku
lupa akan semua kekurangan.

Komentar
Posting Komentar