Masih Ada Rasa


 

Suara risau dan gaduh bercampur menjadi satu, enggap karena berada di tenggah kerumunan para penjual dan pembeli . panas matahari begitu menyengat hingga ubun ubun. Begitu banyak orang yang berlalu lalang dengan kesibukan nya, kuperhatikan juga penjual dan pembeli melakukan transaksi negosiasi dan sedikit menciptakan perdebatan ringan. Tak ayal jika dipasar tradisional seperti ini selalu ramai dikunjungi  masyarakat, karena semua barang  dapat di beli dengan negoisasi  kedua pihak.

 Kulangkahkan kakiku menelusuri tempat ramai tersebut tempat ini sedikit kumuh dibagian tertentu khususnya di bagian penjual  dagin dagingan tertentu khususnya dibagian  penjual  daging dagingan . Bau busuk sedikit menyeruak  menusuk hidungku . Saat ku mencoba menghindari bapak bapak yang membaa beberapa tumpukan kardus justru malah menabraku hingga membuat bahuku  sedikit nyeri “ au”  ucapku sedikit keras . Berharap agar sipenabrak sedikit peka dan mengucapkan kata maaf alih alih  malah nylonong begitu saja . “ mungkin dia tidak tahu kalau udah nabrak orang batinku , sedikit kesal atas perlakuanya namun kuacuhkan dan kuteruskan menyelusuri keramaian orang . Beberapa momen kuabadikan dikamera sebagai bukti dokumentasi .

“ cekrek “  ...beberapa foto yang kudapati sedikit menarik dan memiliki nilai estetik sosial tinggi. saat ku alihkan pandanganku mataku terfokus pada seseorang yang sibuk menggali dan memilih diantara tumpukan sampah. Badanya yang kurus kerontang dan terbalit baju compang camping membuatku tertarik mendekatinya.

 Saat ku dekati  wajahnya nampak nampak keriput seperti termakan usia. Sungguh tak tega hati ini melihatnya kulontarkan  sebuah kata iba kepadanya

 “Bapak”,  ucapku  dengan lirih sambil menatapnya nanar.

 ”Eh iya neng wonten nopo?”  

Gak papa pak, bapak seperti nyari sesuatu yang lain selain sampah?” ucapku agar tak menyinggung perasaanya.

Oh njeh, niku nyari nasi sisa buat makan. kan eman kalo gak dihabiskan.” Seperti mematung setelah mendengar ucapannya.

 “Kalo boleh saya tau bapak tinggal sama siapa?”

 Berdua tok sama cucu.”

 Terus istri dan anak bapak kemana?“

 Istri mpun dipendet sang kuoso 3 tahun yang lalu

 Anak mpon gadah keluarga kiambak

 Bapak ini sebatang kara rupanya, sungguh tak terbesit sedikitpun ada fikiran ku untuk meninggalkan orang tua . Lantas bagaimana dengan anak bapak ini yang tega menelantarkan orang tuanya yang mengais rezeki dari setumpuk sampah bahkan tak sepatasnya jika harus berpakaian compang camping.

Hatiku sedikit tergetar “Bapak ini ada sedikit rezeki untuk membeli makan bapak hari ini” sambil ku keluarkan beberapa lembaran uang kertas berwarna merah muda

“Alhamdulillah, makasih neng. mugi mugi Allah membalas yang lebih lebih kepada sampean

 Amin pak, jangan makan makanan sisa lagi ya pak ga baik buat kesehatan “ “ Nggeh  neng .

Setelah melihat punggungnya yang mulai menjauh dan tak terlihat. Hatiku sedikit lega, sedikit bangga dengan profesiku yang secara tidak langsung mengajarkan ku untuk memiliki jiwa sosial tinggi, mulanya aku yang sedikit mengeluh, pasalnya selalu ditugaskan ditempat tempat yang kumuh dan padat penduduk. Justru dari situ aku mendap pengalaman hidup, masih banyak orang yang berada di bawah kita jadi tidak ada alasan untuk mengeluh sering mawas diri dan berbagi karena masih banyak duava di sekeliling kita.

 

Oleh: @PRTW

 

 

Komentar

Terpopuler

Samudra X JKM 24

Aku Tak Ingin Menyerah

Khidmah, Cara Santri Memperoleh Barokah

Hujan Dan Langit