Pahlawan Adalaah Orang Yang Paling Berjasa
“Oy, bangun sekarang hari merdeka bro , ayo bangun jangan molor mulu” suara toak alias mulut sang pahlawan ngoprak sebut namanya alfi. Pagi ini semangat nya keluar dengan tanpa hambatan, sehingga membuat satu pondok terancam bencana yang amat dahsyat yang membuat loading para santri menjadi sangat cepat, sampai mengalahkan kecepatan valentino rossi yang lagi ngebut-ngebutnya.
Tapi lain halnya dengan seorang yang bernama Aswad, dia adalah orang yang ketika tidur bisa sampai membangunkan orang yang telah meninggal, sehingga apabila gunung belum mengeluarkan letusannya, dan gempa belum menampakkan getarannya, mana mungkin bangun. “Aswad bangun woy, 17 agustus sekarang, lo nggak berangkat upacara kena eksekusi keamanan mau lo, oy gila ni orang.” Sang pahlawan kesulitan membangunkan Aswad. Aku yang baru saja masuk kamar setelah mandi, kebingungan melihat sang pahlawan yang bertarung dengan musuhnya, ”Hey bang, ngapain, bangunin Aswad percuma, kalo belum ada gempa, tsunami, sama badai nggak bakal bangun di mah hhh.” Ucapku meledek.
“Emang biadab lo, bukannya bantuin malah ngledek, ni temen lu udah dari kapan si tidur, susah amat banguninnya” ucap sang pahlawan. “Udah satu minggu kali dia tidur, coba cek, masih hidup nggak hhh.”
“Gila jahat lo, orang masih nafas gini, di bilang udah KO.”
“Ye... kali ajah.”
“Ya udah kagak usah kebanyakan debat, bantuin gua aja, sini ayo,”
“siap.”
Sementara saya dan sang pahlawan masih sibuk membangunkan Aswad, sedangkan para santri lain sudah hampir selesai bersiap, semua santri memakai pakaian putih abu-abu, lengkap dengan dasi, sepatu dan ikat pinggang yang tak lupa dengan peci putih yang menambah kegantengan para santri putra. Tidak perlu memakan waktu lama sebagian santri telah bersiap, sedangkan sang pahlawan dan saya masih berusaha keras membangunkan Aswad. “Alah sini, biar kuambilkan.” Ucapku agak frustasi.
Saya pun pergi mengambil air, sedangkan sang pahlawan masih belum menyerah. “Gila ni anak, orang tuanya dulu bikinnya gimana, kok bisa yang keluar kayak gini modelnya.” grutu sang pahlawan. Tidak berselang lama, saya datang dengan membawa ember yang berisi air. “Mampus lo, suruh siapa susah bangun, makan ni air plus ember.” Batinku.
“Gimana ni bang, langsung eksekusi apa bangunin dulu,” kataku. “Kita coba sekali lagi, kalo gagal langsung gas aja.” Ucap sang pahlawan. Kami berdua pun membangunkan target, dan yang terjadi, ternyata nihil!!. “Udah langsung aja.” Ucap sang pahlawan yang ikutan frustasi, saya mengiyakan saja dan langsung mengambil ember yang berisi air, sambil membatin “Maafkan gua sobat, Cuma ini harapan terakhir gua.” Semoga dengan ini lo akan sadar dengan perbuatan lo.” Ember telah ku angkat dan sekarang telah ku bawa menuju target, ketika saya bersiap melepaskan serangan.” Mau ngapain lo, bawa ember, mau ngepel lantai, entar aja habis upacara”. Ucap Aswad yang tidak berdosa ketika bangun dari semedinya. “Pala lu ngepel, mau mandi gua.” Ucapku kesal. “Mandi di disini, mandi di kamar mandi sono gila ya haha.” Ucap aswad.
“Seharusnya gue yang nanya elo kenapa nggak dari tadi banguninnya, giliran mau disiram aja bangun lo, emangnya habis mimpi apaan, ketemu sukarno. Lo nggak kasian sama sang pahlawan dari tadi bangunin lo.’ Ucapku marah.
“Jadi lo mau nyiram gue, iya?. Ucap Aswad.
“Iya lah, ngapain coba gue bawa ember.’ Ucapku panas.
“Terus?” Ucapan terlarang dari Aswad yang membuat keheningan diantara kita untuk beberapa saat. krik krik krik krik byur.
“Astaghfirullah.” ucap Aswad kaget.
“Mampus lo makan tu basah, udah nggak usah ribet ayo berangkat.” Ucapku puas setelah memberikan serangan. Jam menunjukan pukul 07.00 WIB, Saya, Aswad dan sang pahlawan berangkat menuju lapangan upacara, dengan semangat 45 upacara baru dimulai, saya dan kawan-kawan dan para santri langsung berbaris memenuhi lapangan dengan rapi dan teratur. Seluruh santri melaksanakan upacara dengan penuh semangat dan ta’dhim.
Singkat cerita “Mengheningkan cipta yang akan dipimpin oleh komandan upacara,” suara dari pembawa acara.
“Marilah kita bersama-sama mengheningkan cipta untuk mengingat jasa para pahlawan, mengheningkan cipta mulai,” suara dari komandan upacara yang diikuti dengan lagu wajib nasional yang dibawakan oleh pemandu suara. Para santri meresapi dengan rasa kagum dan ta’dhim, dengan perjuangan para pahlawan NKRI yang berjuang mengorbankan harta dan nyawa hanya untuk kemerdekaan bangsa dan negara, sehingga sampai sekarang jasa para pahlawan masih harum di hidung dan namanya masih indah di dengar Bangsa Indonesia, mereka bagaikan pahlawan pendiri bangsa ini.
Haru dan sedih para santri membayangkan perjuangan para pahlawan NKRI, sebagian ada yang menangis, ada juga yang hanya diam meresapi, “Bro, itu asad tidur bangunin sono,” Ucap sang pahlawan. “Buset, gila ni orang, keadaan begini masih sempat-sempatnya tidur, bodo ah, nyerah gua sama lu, kalo dilihat lucu juga ya, tidur sambil berdiri, emang skillnya tingkat dewa hhh,” batinku.
“Udah bang, biarin aja, capek gua,” jawabku.
“Lo, tapikan dia tidur itu bodo,”ucap pahlawan.
“Terus yang bilang bangun siapa, gila kau ya,” ucapku “Ya udah makannya bangunin,” ucap pahlawan “Iya iya,”ucapku kesal.
Upacara telah selesai, para santri mulai kembali ke kamarnya masing-masing, membawa perasaan senang bercampur dengan rasa takjub atas segala perjuangan yang mengorbankan segalanya demi orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Sehingga kisah perjuangan mereka akan selalu ada sampai kapanpun di hati bangsa negara kesatuan republik indonesia.
PAHLAWAN SEJATI ADALAH MEREKA
YANG MENGORBANKAN KEBAHAGIAANNYA DEMI
KEBAHAGIAAN ORANG LAIN.
oleh:@makl
Semangat terus kak!!!!!!
BalasHapus