Keutamaan Bersiwak
Kisah pertama mengenai kesunnahan bersiwak ketika hendak berwudlu: Bahwa pada suatu hari, habib Ali ibn Abdillah as-Saqof lupa bersiwak di kediamannya, ketika habib Ali berharap agar bisa bersiwak, beliau ingat siwak tadi, kemudian beliau memerintah salah satu muridnya untuk mengikat kudanya dan melakukan siwak. (tuhfatul asyraf juz 1 hal 126)
Kisah kedua tentang kesunnahan bersiwak ketika hendak melaksanakan shalat, diceritakan seseorang pemuda yang membeli sebatang siwak dengan harga satu dinar.
Itu terjadi ketika, pemuda itu melaksanakan shalat. dan belum mendapatkan siwak. Pemuda itu menemukan seseorang yang membawa siwak, kemudian seseorang tadi berkata pada pemuda tersebut:
“Aku tidak akan menjual siwak ini kecuali jika kamu mau membelinya dengan harga satu dinar.”kemudian siwak tadi dibeli oleh pemuda tersebut. Maka ada orang lain yang berkata pada pemuda tersebut:
“Kamu adalah orang yang menyia-nyiakan harta karena membeli sebatang siwak dengan harga satu dinar.”pemuda tadi pun menjawab:
“Ini adalah perkara Sunnah yang mana telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw. beliau berkata:
“Seandainya bersiwak itu tidak memberatkan ummatku, maka aku akan memerintahkan ummatku untuk bersiwak di setiap waktu shalat, karena sesungguhnya melaksanakan satu kali shalat dengan bersiwak itu lebih baik daripada melaksanakan tujuh puluh kali shalat tanpa bersiwak”
“Seluruh satu dinar itu hanyalah sebagian dari sayap seekor nyamuk, sedangkan dunia itu tidak bisa menyamai sayap seekor nyamuk menurut Allah.”(tuhfatul asyraf juz 2 hal 21)
Kisah ketiga tentang kesunnahan bersiwak di setiap waktu.
Ada sebagian dari murid yang membaca bab siwak kepada gurunya, kemudian gurunya berkata:
”Jika kalian tidak memiliki siwak, maka janganlah kalian membacanya.” (al-fawaidu al-mukhtar)
(الْحِكَايَةُ الثَّانِيَةُ فِي مَسْئَلَةِ السِّوَاكِ)
الْحِكَايَةُ اْلأُوْلَى فِي سُنِيَةِ السِّوَاكِ عِنْدُ اْلوُضُوْءِ: كَانَ اْلحَبِيْبُ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الله السَّقَاف نَسِيَ مِسْوَاكَهُ فِي الغَيْلَةِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَتَسَوَّكَ لِلْوُضُوْءِ تَذَكَّرَهُ، فَأَمَرَ بَعْضَهُمْ أَنْ يَشُدَّ اْلخَيْلَ وَيَأْتِي بِهِ.(تخفة الأشراف۱/۱٢٦)
اْلحِكَايَةُ الثَّانِيَةُ فِي سُنِيَةِ السِّوَاكِ عِنْدَ الصَّلَاةِ: يُحْكَى أَنَّ الشِّبْلِيَّ اِشْتَرَى سِوَاكًا بِدِيْنَارٍ، وَذَلِكَ أَنَّهُ حَضَرَتْهُ الصَّلَاةُ وَلَمْ يَجِدْ سِوَاكًا وَوَجَدَ رَجُلًا مَعَهُ سِوَاكٌ، فَقَالَ: لَا أَبِيْعُ إِلَّا بِدِيْنَارٍ، فَاشْتَرَاهُ بِهِ، فَقِيْلَ لَهُ: أَنْتَ مُبَذِّرٌ تَشْتَرِيْ سِوَاكَا بِدِيْنَارٍ، فَقَالَ: هَذِهِ سُنَّةٌ أَمَرَنَا بِهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:"لَوْلَا أَن أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ، وَصَلَاةٌ بِسِوَاكٍ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ صَلَاةً بِلَا سِوَاكٍ"، وَالدِّيْنَارُ جُزْءٌ مِنْ جُنَاحِ بَعُوْضَةٍ، وَالدُّنْيَا كُلُّهَا مَا تُسَاوِيْ عِنْدَ الله جُنَاحَ بَعُوْضَةٍ (تخفة الأشرف٢/۲۱)
اْلحِكَايَةُ الثَّالِثَةُ فِي اسْتِحْبَابُ السِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ حَالٍ: كَانَ بَعْضُ التَّلَامِيْذِ يَقْرَأُ عَلَى شَيْخِهِ بَابُ السِّوَاكِ، فَقَالَ شَيْخُهُ: إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَكَ سِوَاكٌ فلَاَتَقْرَأُ!(الفوائد المختارة ٥٤٥)
Komentar
Posting Komentar